Sempurna

KETIKA SANG BUAH HATI TERTUNDA

Membangun sebuah keluarga yang bahagia merupakan impian setiap insan. Apalagi bagi kita orang muslim dan muslimah. Ketika kita ijab kabul di depan penghulu, atau ketika kita melangsungkan pseta pernikahan, kita selalu didoakan untuk menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah. Ini artinya, setiap orang mendoakan agar kita bisa mencapai keluarga yang bahagia, tanpa kekerasan di dalamnya. Karena keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah itu ada yang namanya menjalani hidup penuh dengan kasih sayang, saling mengerti dan saling menghargai satu sama lain. Dengan pola hidupdemikian, kita bisa menikmati hidup dengan penuh keceriaan, santai, aman, tentram dan sejahtera. Itulah keluarga idaman kita semua.

 

Pola hidup seperti di atas, sebenarnya mudah untuk diterapkan. Namun sayang, hanya sebagian kecil orang bisa menerapkan itu. Dalam kenyataannya, hanya sedikit keluarga yang dapat mewujudkan impian itu menjadi kenyataan. Tidak sedikit pula yang berakhir hanya hanya sebatas impian saja. Ini disebabkan karena sebuah kelurag sulit membangun yang namanya saling menghargai, saling percaya, saling sayang menyangini dan sebagainya itu. Yang ada hanyalah penuh dengan berbagai masalah yang mendorong pada jehancuran keluarga.

 

Memang yang namanya kehidupan berkeluarga itu bisa diwarnai oleh berbagai masalah, karena masalah adalah warna atau bumbu dalam kehidupan. Banyak orang berkata, hidup tanpa masalah, ibarat sayur tanpa garam. Kalau sayur tanpa garam, maka sayur akan hambar rasanya. Namun, apakah keluarga yang ada masalah berarti akan membuat keluarga itu asin atau tenteram? Tentu tidak bukan?. Itulah realitas yang sering kita temukan sekarang. Akibatnya, betapa banyak keluarga yang mengalami kasus tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menyebabkan sebuah keluarga yang tadinya berjalan dengan rasa aman dan bahagia, tiba-tiba berubah menjadi sebuah keluarga yang hancur berantakan. Terkadang, hanya karena masalah-masalah yang sepele. Sungguh sangat disayangkan…

 

Sebagai contoh kasus, beberapa bulan yang bulan lalu pernah terjadi tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di sebuah desa, di daerah tempat penulis berdomisili. Ceritanya, dimulai dari seorang suami yang menuntut pada sang istri supaya bisa memberinya seorang keturunan anak, lalu sang isteri menjawab “akupun menginginkan seorang buah hati bisa hadir di tengah-tengah keluarga kita. Tetapi, apa boleh buat, Allah belum menganugerahkan amanah itu kepada kita. Mendengar ucapan itu, sang suami terusik. Rupanya sang suami tidak mau mengerti dan tidak bisa menerima begitu saja. Iapun berkata pada isterinya dengan suara yang lantang. “Alah … memang dasar kamu perempuan mandul, tidak bisa memberikan keturunan”. Mendengar makian yang diontarkan sang suami, isterinya tidak mau kalah dan tinggal diam. Maka terjadilah perang adu mulut. Ujung dari pertengkaran itu, berbuah KDRT yang tidak kita inginkan semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: